0
Dikirim pada 05 April 2018 di Uncategories

  Tidak dapat dipungkiri bahwa Meratus kini telah dikenal sebagai surganya anggrek, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di dunia internasional. di sepanjang Pegunungan Meratus ini pulalah masyarakat adat Dayak Meratus tinggal. suku Dayak Meratus atas suku Bukittinggi dan hidup berdampingan sambil mengelola kawasan hutan Meratus dengan kearifan lokal yang masih kental hingga saat ini.

 

  Masyarakat adat Dayak Meratus tidak memiliki orientasi materialis dan sifat kompetitif. sumber daya alam yang tersedia hanya di ambil secukupnya sesuai kebutuhan dan kemampuan mereka. meskipun kreativitas lokal daya tidak mengenal istilah konservasi, namun pada kenyataannya praktek aksi pelestarian terhadap tumbuh dan hewan sejarah mengagumkan telah dilakukan oleh masyarakat Dayak Meratus ini secara turun-temurun. contohnya, mereka menentukan sesuatu kawasan atau situs yang di keramatkan secara bersama-sama. kearifan lokal seperti ini terbukti ampuh menyelamatkan suatu kawasan beserta isinya dengan berbagai bentuk larangan yang disertai dengan sanksi adat bagi yang melanggarnya. bagi mereka yang melanggar ketentuan tersebut akan dikenai denda yang besarnya ditetapkan oleh kepala adat setempat.

 

  Masyarakat adat Dayak Meratus memberlakukannya wilayah 'katuan larangan (Hutan Larangan) dalam wilayah tersebut, segala aktivitas pemanfaatan lahan seperti bahuma atau Manunggal (bertani atau berladang) satuan larangan diperuntukkan dan diyakini sebagai tempat bersemayamnya arwah leluhur. pohon di wilayah itu tidak boleh ditebang. ada lagi wilayah 'satuan adat'(hutan adat). wilayah tersebut memiliki Balai yang sebagian boleh dibuka untuk 'Bahuma'. masyarakat sekitar Balai diperbolehkan menebang pohon untuk kebutuhan membangun rumah dan kayu bakar di wilayah tersebut. di wilayah 'katuan adat'boleh ditanami tanaman perkebunan atau tanaman keras setelah tidak lagi dipergunakan untuk 'bahuma'. masyarakat menyebutnya dengan istilah 'jurungan'atau wilayah bekas ladang yang ditinggalkan untuk kemudian diladangi kembali.

 

  Sekelompok suku Dayak tidak mengenal dunia luar atau dunia teknologi masa kini seperti kita yang sehari-hari memegang smartphone. mereka hanyalah bergaul dengan teman-temannya bersukaria bercanda tawa serta bekerja untuk makan



Dikirim pada 05 April 2018 di Uncategories
comments powered by Disqus
Profile

“ Haji/Hajjah Whinayani ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

Page
Archive
Categories
Tag
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 122 kali


connect with ABATASA